Seberapa Besar Peluang Perwira Pelaut Indonesia Pekerja Di Kapal - Kapal Luar Negeri ? -->

Iklan Semua Halaman

Seberapa Besar Peluang Perwira Pelaut Indonesia Pekerja Di Kapal - Kapal Luar Negeri ?

Ananta Gultom
January 6, 2021

Depok , 6 Januari 2021

Sangat menarik untuk di telaah lebih jauh setelah membaca buku dari Drewry Maritime Research ( baca : Drewry ) dengan judul  " 2020/21 Manning Annual Review and Forecast"  terbitan terbaru akhir 2020 terutama pada  3 kalimat yang ada dalam Drewry tersebut mengacu ke situasi di tahun 2020 yaitu ( terjemahan bebas dari bahasa Inggris ) : 

1. Bertambahnya kekurangan perwira pelaut  ( baca : perwira )  di dunia menjadi sekitar 11.000 di bandingkan  dengan tahun sebelumnya atas adanya 59,186 kapal. 
2. Perwira yang ada pada saat ini sekitar  640,400 dari seluruh dunia. 
3. Kekurangan perwira terjadi karena bertambahnya  armada di dunia yg lebih besar di bandingkan dengan perkiraan sebelumnya. 

Di samping itu karena bertambahnya beberapa pilihan pekerjaan di darat dengan tingkat pendapatan yang sama dengan berlayar dan juga para generasi
perwira muda yg tidak berkehendak lagi untuk berkarir sebagai pelaut. 

Nah, yang di maksud dengan sangat menarik dalam paragraf di atas tentunya adalah terjadinya kekurangan perwira sekitar  11,0000 untuk pemenuhan kebutuhan bertambahnya armada kapal niaga dalam skala dunia. Namun di sisi lain bila kita kembali melihat ke kondisi domestik ( Indonesia ) secara kasat mata sedang terjadi beberapa lulusan perwira yang tidak segera terserap "on board" setelah mereka lulus menyelesaikan masa pendidikannya. 

Secara kenyataan itulah yang sedang terjadi  kepada para perwira yang baru lulus dari pendidikannya. Di mana hal ini kelihatannya menjadi bertolak belakang dengan kondisi yang ada perihal kekurangan perwira kapal niaga dalam skala dunia sebagaimana di terangkan di Drewry.. 

Sebagai informasi tambahan mengacu pada Drewry bahwa bertambahnya kapal di level dunia dan keperluan perwira dari tahun 2020 sd 2025 adalah sebagai berikut :

a. Armada kapal dari Januari 2020 sd Januari 2025 bertambah 1,345.
b. Keperluan penambahan perwira atas penambahan kapal tersebut adalah 32,060. 
c. Poin di atas memasukkan unsur kapal yg di scrap karena kondisi tertentu. 

Dalam bukunya Drewry masih belum mencantumkan Indonesia sebagai negara yang menempatkan sebagian besar perwira di kapal niaga berbarengan dengan Bulgaria , China, Kroasia, India, Latvia , Philiphina, Polandia dan Russia. Indonesia masih di tempatkan bersama dengan Afrika, Mianmar dan Vietnam sebagai negara yg berpotensi mengisi pasar perwira di tingkat dunia. 

Di atas kertas dari Kementrian Luar Negeri di dapatkan data bahwa ada sekitar 262,000 yang bekerja sebagai awak kapal di luar negeri. Dengan rincian sebagai berikut : 

a. 200,000 di kapal ikan. 
b. 23,000 di tugs. 
c. 18,000 di sektor kapal pesiar.
d. 18,000 di kapal "general cargo" 
e. Kurang dari 2000 di kapal tanker 

Dimana sebagian besar masih di dominasi oleh level rating di bandingkan dengan level perwira , demikian kata Drewry. Adapun perwira masih mendominasi bekerja di kapal-kapal perusahaan Belanda. 

Kembali ke poin adanya beberapa lulusan perwira yang pada saat ini tidak langsung terserap oleh pangsa kerja di kapal  padahal ada kesempatan pangsa kerja yg sedemikian besar dalam skala armada kapal di dunia tersebut maka secara otomatis timbul pertanyaan , apa yang terjadi ? mengapa ? ( why ? ) 

Dengan melihat kesempatan yang ada tersebut sudah semestinya tidak terjadi " delay " serapan bagi para perwira untuk dapat langsung bekerja di kapal. Dari sinilah pemikiran timbul atas pertanyaan "why ? " sebagaimana di sebutkan di atas. 

1. Seberapa siapkah para perwira Indonesia untuk masuk pangsa kerja di kapal-kapal luar negeri ?
2. Adakah dukungan "networking " yang terstruktur untuk membawa para perwira masuk  kedalam pangsa kerja di luar negeri tersebut yang lebih luas lagi ? 

Dari dua " why ? " tersebut sudah bisa mewakili beberapa hal untuk bisa menjadi telaah bersama secara nyata dalam mengatasi adanya " delay " para perwira ( perwira muda pada khususnya ) dalam meraih pangsa kerja di kapal kapal luar negeri sana. 

Tidak bisa di pungkiri ada sisi pilihan bagi pemilik kapal  bahwa pelaut Indonesia masih masuk dalam " low cost option " atas kondisi perdagangan yang sedang sedemikian ketat saat ini.Sehingga ini menjadi tantangan tersendiri untuk membuka, mendorong dan menempatkan para perwira dalam kancah armada kapal di level dunia yg lebih luas. Memang sudah ada beberapa yang bekerja tanker dan kapal curah dengan pendapatan yang relatif sama dengan pelaut Philiphina.  

Pertanyaan ( why ) bisa di jawab segera dengan relatif mudah. Namun perlu kesungguhan untuk dapat di kerjakan dan di kawal bersama secara konsisten oleh para pihak yang berkepentingan. Sampai dengan ada bukti bahwa para perwira sudah bisa merambah pangsa kerja di kapal - kapal luar negeri. Sebagaimana kesempatan yang ada perihal keperluan kebutuhan mengisi jabatan kekurangan  perwira yang telah di informasikan di atas.  

Di tulis atas telaah dari buku Drewry  : 2020/21 Manning Annual dan Forecast. 

Penulis. 

Capt. Hepi M.Faizal, MM - CAAIP 29