Terkini

BERITA TERKINI


Lihat Semua Berita >>>

Cat-1

YBS CAAIP

YBS CAAIP

Berita STIP

BERITA STIP

CAAIP Video Chanel

Cat-2

Cat-3

Cat-4

» » » » Membangun dan Menata kembali Maritim Indonesia

Kebijakan Pemerintah yang membatasi usia kapal yang beroperasi di Indonesia era 80 an atau dengan istilah "scrapping", telah hampir 3 dasa warsa berlalu, namun Industri Maritim Indonesia belum sepenuhnya bangkit kembali.


Negeri yang pernah berjaya di lautan sebagai Negeri Bahari, pelautnya sampai ke ujung Selatan Benua Afrika, Negeri di zaman kerajaan Sriwijaya dan kerajaan Majapahit sampai menguasai Asia Timur dan Asia Selatan.


Negeri yang juga pernah mempunyai perusahaan perusahaan pelayaran besar seperti Djakarta Lloyd, Trikora Lloyd, Gesury Lloyd, Sriwijaya Line, Bhineka Line, Samudera Indonesia dll. Dengan Armada yang ada padanya, kapal kapal ber Bendera Indonesia berlayar mengelilingi dunia. 


Ada sebagian kecil yang masih tetap bertahan, akan tetapi kembang kempis, itupun karena didukung oleh bisnis yang lainnya, akan tetapi bagi perusahaan yang hanya mengandalkan satu sektor bisnis semuanya punah, satu persatu perusahaan itu gulung tikar dan redup.


Berbagai usaha untuk bangkit, namun belum menampakkan kejayaan yang seperti dulu, Dunia Pelayaran Indonesia bahkan bagai "Tikus Mati di Lumbung Padi". Negeri kepulauan namun armada lautnya "berantakan".  Banyak muatan namun yang mengangkut kapal charter dari luar.


 

Di Era Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Yusuf Kalla dengan Nawa Cita, dimana pembangunan sektor Kemaritiman menempati prioritas pertama dalam Nawa Cita itu sendiri.  Konsep Tol Laut dan menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia membuktikan bahwa Pemerintah menyadari betul dan berpandangan, bahwa dengan memajukan sektor Kemaritiman Indonesia bisa maju menjadi Pemimpin Ekonomi Dunia. 


Namun sangat disayangkan Pemerintah enggan untuk merangkul Pakar Pakar Kemaritiman dari Sekolah Kemaritiman tertua di negeri ini, tidak ada alumni AIP/STIP (CAAIP) diajak untuk mewujudkan Nawa Cita tersebut.


Padahal, kalau boleh berkata jujur, bahwa konsep Tol Laut yang didengungkan oleh Pemerintah maupun konsep Poros Maritim Dunia masih belum sepenuhnya sejalan dengan pemikiran para Pakar Kemaritiman dari CAAIP.


Kalau konsep Tol Laut dan konsep Poros Maritim Dunia itu dijalankan dengan benar sesuai dengan sudut pandang Pakar Kemaritiman dari CAAIP, bukan mustahil  "Sekali Merengkuh Dayung Dua Tiga Pulau Terlampaui" Dengan membangun dan menata kembali dunia Maritim Indonesia, masalah Politik, Ekonomi, Sosial dan Budaya dapat teratasi. Akan tetapi sayangnya Pemerintah enggan merangkul CAAIP sebagai gudangnya pakar Kemaritiman Indonesia.


Konsep Tol laut yang diangankan oleh Pemerintah adalah adanya kapal yang non stop dari Sabang sampai Merauke, yang diistilahkan dengan Pendulum Nusantara, fakta yang terjadi di lapangan adalah apabila ada kapal Tol Laut tersebut tiba dan sandar, maka kapal lain harus memberikan kapal tersebut untuk sandar duluan.


Sedangkan Tol Laut itu menurut Pakar kemaritiman dari CAAIP adalah adanya angkutan laut yang bebas hambatan. "bebas hambatan" itu tidak terjadi di laut, akan tetapi justru di darat dimana adanya Infrastruktur yang tidak memadai. Jadi yang harus menjadi prioritas pembangunan justru Infrastruktur pelabuhan dan menambah panjang dermaga, bukan memberikan prioritas kapal kapal Tol Laut untuk sandar dan menyingkirkan kapal lain yang sedang sandar, seperti memenjat balon.


Nilai Politik yang didapat adalah bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dapat terjaga keutuhannya, tidak ada lagi istilah pulau terpencil, tidak ada lagi pulau yang tidak terawasi dan kecemburuan akan pembangunan yang terpusat di salah satu pulau saja tidak akan terjadi lagi. Pulau pulau akan mempunyai ikatan yang sangat kuat dan Pelaut akan menjadi bagian Elemen Bangsa yang menjadi perekat berdirinya NKRI.


Nilai Ekonomi yang didapat bahwa dengan terbukanya seluruh wilayah Indonesia, negeri ini akan menjadi miniatur dunia, semua bahan baku ada padanya, bukan suatu yang mustahil, tanpa berdagang dengan negeri luarpun kita bisa memenuhi kebutuhan itu. Banyak hasil bawah laut yang belum tergali dan termanfaatkan, sektor Perikanan, sektor Pariwisata baru sebagian kecil saja yang tergali untuk meningkatkan Ekonomi Masyarakat Indonesia.


Masalah Sosial dan Budaya, bahwa Sumber Daya Manusia yang tadinya menyebar di seluruh wilayah dan tidak tertampung, yang selalu urban ke Pulau Jawa. Lapangan kerja di daerah akan terbuka luas, Ibukota yang menjadi "Magnet" para pencari kerja akan berkurang.


Sebagai pakar Kemaritiman yang lahir dari Sekolah Kemaritiman tertua di negeri ini, mereka menilai bahwa untuk melaksanakan pembangunan dan penataan kembali dunia Maritim Indonesia perlu adanya suatu kajian mengapa kejayaan Dunia Maritim kita runtuh, faktor faktor yang menyebabkan runtuhnya kejayaan maritim masa lalu itu. Tanpa mengkaji  faktor yang menyebab runtuhnya kejayaan maritim masa lalu, untuk kemudian menjadikan itu suatu pelajaran berharga, maka kita akan terperosok pada lubang yang sama.


Kebijakan pemerintah di era 80 an mengenai "Scrapping" kapal kapal tua, bukan satu satunya penyebab runtuhnya dunia maritim kita. penulis mencoba mengkaji beberapa faktor lain yang menjadi penyebab runtuhnya Industri Maritim itu dalam operasionalnya antara lain:


1.      Kapal tiba di pelabuhan harus berlabuh lama antri menunggu dermaga.


2.      Kapal harus bongkar separuh muatan dulu, setelah draft cukup baru bisa sandar.


3.      Kapal terganggu kegiatan bongkar muatnya karena faktor cuaca, ombak dsb.


Ketiga faktor diatas membuat tingginya biaya operasional kapal, tidak jarang kapal harus lama berlabuh di pelabuhan untuk kegiatan operasionalnya. Faktor tersebut diatas dapat disebutkan sebagai Faktor Infrastruktur. Dimana Infrastruktur pelabuhan tidak berkembang mengikuti perkembangan dunia pelayaran. Keterbatasan panjang dermaga, keterbatasan kedalaman pelabuhan maupun area pelabuhan yang terbuka dan tidak dilindungi oleh break water hampir di seluruh wilayah pelabuhan kita.


Sebagai solusi kedepan adalah menambah panjang dermaga atau membangun pelabuhan baru, menyiapkan kedalaman maksimum yang dapat dimasuki segala jenis kedalaman / draft kapal serta membangun Break Water yang kokoh. Sebagai study banding dapat kita lihat dibeberapa pelabuhan terpencil di Jepang, yang mempunyai dermaga yang kokoh, mempunyai kedalaman maximum dan terlindung oleh Break Water.


Dengan membangun infrastruktur pelabuhan yang permanen di pelosok pelosok daerah, akan menciptakan produktifitas Politik, Ekonomi, Sosial dan Budaya seperti uraian diatas, "Sekali merengkuh Dayung Dua Tiga Pulau Terlampaui".


 

Konsep Poros Maritim Dunia yang didengungkan Pemerintah perlu sedikit diluruskan oleh Pakar Kemaritiman dari CAAIP. Indonesia ini posisinya sudah berada di Poros Dunia, antara dua Benua Asia dan Australia, antara dua Samudera Pasific dan Samudera Hindia/Indonesia.  Posisi yang sangat strategis untuk berbisnis dengan Dunia luar.


Menurut Pakar Kemaritiman dari CAAIP, Konsep Poros Maritim Dunia adalah Konsep Kedaulatan. Sebagai negara Berdaulat Penuh atas wilayahnya, bangun dan kembangkan Pulau Batam menjadi pelabuhan besar. Tidak ada satu negarapun yang boleh mendikte negeri ini untuk menumbuh kembangkan wilayahnya.


Selama ini Alur Pelayaran Selat Singapura hanya dinikmati oleh Negeri Singapura saja. Bahkan untuk berniaga dengan dunia luar kita harus melalui Singapura.


System yang selama ini, bahwa untuk berdagang ke dunia luar harus melalui Singapura sangat tidak menguntungkan. Sudah banyak perusahaan pelayaran Indonesia yang kolaps dihantam oleh negeri ini. Akibat pengiriman barang ke Eropa atau ke Asia harus melalui Singapura, kapal kapal yang mengalami delay atau keterlambatan tiba di Singapura banyak yang harus membayar denda. Baik itu denda penyewaan lapangan penampungan / gudang, denda pembatalan / penundaan pandu dan denda denda lainnya.


Apabila kita dapat membangun dan menumbuh kembangkan Pulau Batam dan sekitarnya, untuk sama sama menikmati ramainya selat Singapura, pengiriman barang tidak perlu lagi transit ke Singapura. Ketergantungan yang sebetulnya menghancurkan dunia maritim itu sendiri. Setiap pengiriman barang/kontainer harus melalui/transit di Singapura. Sudah banyak perusahaan pelayaran yang menderita kerugian untuk kegiatan ini.


Malaysia sudah lebih dahulu menyadari dan ingin sama sama menikmati ramainya selat Singapura. Diam diam negeri itu membangun pelabuhan besar di Tanjung Pelepas wilayah negaranya.


Masih banyak persoalan Dunia Maritim Indonesia yang perlu tenaga dan buah pikiran para ahlinya, untuk Membangun dan Menata kembali Kejayaan Maritim Indonesia,  Pemerintah hendaknya tidak segan untuk merangkul Pakar Pakar kemaritiman dari CAAIP. Pakar pakar dari Sekolah Kemaritiman tertua yang bersertifikat Internasional dan diakui Dunia, karena mereka mempunyai segudang fakta di lapangan, mereka sudah melihat langsung Dunia Luar sebagai Study banding, mereka sudah merasakan sendiri sistem yang berhubungan langsung dengan Industri Maritim di tanah air ini.


Malaysia besar karena MISC dan Petronas, disana pakar pakar kemaritimannya menjadi Anak Emas Negara, mereka berasal dari Sekolah Kemaritiman di Indonesia yang bernama AIP/PLAP dan sekarang berganti nama STIP.    


Semoga Maritim Indonesia kembali berjaya...!  Aamiin..!


Yales Veva Jaya Mahe...




(Penulis : Capt. R. Jumadi M.Mar)

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

Comments
0 Comments

X-Taruni

Gallery

Umum

Cat-5

Cat-6